liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
Gagal Taklukkan Tanah Jawa, Raja Sriwijaya Ucapkan Kutukan Mengerikan

Memuat…

Kerajaan Sriwijaya adalah sebuah kerajaan Budha di Indonesia yang didirikan pada abad ke-7 Masehi. Kerajaan Sriwijaya memiliki sejumlah prasasti yang berisi kutukan.

Konon penguasa Kerajaan Sriwijaya itu mengucapkan kutukan atas daerah yang disebut pemberontak itu. Hal ini tertuang dalam Prasasti Kota Kapur yang ditemukan di Pulau Bangka, sebelah utara Sungai Menduk.

Seperti terjemahan prasasti Kern, pada “Kedatuan Sriwijaya” terdapat tulisan dengan huruf Pallawa yang jika diterjemahkan berarti “walaupun mati terkutuk”.

Selain itu, biarlah mereka yang menghasut orang pada kehancuran, yang menghancurkan batu yang diletakkan di tempat ini, mati juga akan dikutuk dan dihukum segera. Biarkan para pembunuh, pemberontak, mereka yang tidak setia, mereka yang tidak setia kepada saya, biarlah pelaku perbuatan ini mati di bawah kutukan.

Baca juga: Kisah Raja Muda Majapahit Minta Gajah Mada Cari Jodoh

Prasasti ini ditulis pada tahun Saka 608, hari pertama paruh cerah bulan Vaisakha, saat kutukan ini diucapkan. Konon yang memerintahkan kutukan saat itu adalah Prabu Dapunta Hyang Sri Jayanasa.

Krom menjelaskan Prasasti Kota Kapur merupakan bagian dari ekspansi politik Kerajaan Sriwijaya. Kutukan itu konon diucapkan ketika bala tentara Sriwijaya baru saja berangkat menyerang tanah Jawa yang tidak takluk kepada Kerajaan Sriwijaya.

Memang penyebutan pulau Jawa dalam prasasti ini masih menimbulkan berbagai penafsiran. Karena jika yang dimaksud pulau Jawa, maka tidak masuk akal mengapa ekspedisi dilancarkan untuk menyerang wilayah Jawa, disebutkan dalam sebuah prasasti yang ditemukan di Bangka.

Pernyataan ini kemudian dijawab oleh Krom yang menyebutkan tentang perolehan wilayah setelah perang. Prasasti tersebut hanya melaporkan bahwa pengukiran itu terjadi ketika pasukan Sriwijaya baru saja berangkat menyerang Jawa yang tidak tunduk kepada Sriwijaya.

Dari sini Krom menjelaskan ekspedisi ini sebagai contoh agar penduduk tempat batu bertulis itu didirikan, yaitu penduduk Pulau Bangka, harus berpikir terlebih dahulu jika ada niat memberontak terhadap pemerintahan Sriwijaya.