liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
Kisah Tiko Rawat Ibunya Selama 12 Tahun di Rumah Mewah Terbengkalai, Pernah Dagang Gorengan hingga Jadi Sekuriti

Memuat…

Tiko (23) sudah 12 tahun merawat ibunya, Eny, di rumah mewah terbengkalai tanpa listrik di Kompleks PLN, Cakung, Jakarta Timur. Foto: MPI/Bachtiar Rojab

JAKARTA – Kisah mengharukan Tiko (23) yang selama 12 tahun merawat ibunya, Eny di rumah mewah terbengkalai tanpa listrik di Kompleks PLN, Cakung, Jakarta Timur. Selama merawat ibunya yang sakit jiwa, Tiko biasa berjualan gorengan hingga menjadi satpam.

Dengan kondisi rumah yang terbengkalai, kotor, dan tanpa listrik, banyak warga yang bertanya-tanya, bagaimana Tiko menghidupi ibunya?

Dia menceritakan kisah hidupnya. Sejak putus sekolah di kelas 1 SMP, Tiko kerap bekerja paruh waktu dan mengandalkan bantuan warga sekitar. Setelah beranjak dewasa, Tiko biasa berjualan gorengan hingga menjadi satpam.
Baca juga: Selama 12 Tahun, Anak-Anak Jaga Ibunya di Rumah Mewah Terbengkalai Tanpa Listrik di Jakarta Timur

“Mbak, sebelum keadaannya seburuk ini, masih ada usaha gorengan, jadi saya keliling jualan. Semakin banyak ibu datang ke sini, semakin parah keadaannya, makanya saya ditawari RT untuk jadi satpam di sini, kata Tiko di Cakung, Jakarta Timur, Kamis (5/1/2023).

Ia tidak mengurus rumah mewahnya karena sibuk bekerja dan mengurus ibunya. Bahkan, rumahnya mati listrik sejak ditinggalkan ayahnya selama setahun.

“Tidak lama setelah ayah saya pergi, sekitar 1 tahun terputus. Kurang dari setahun setelah saya pergi, air dan listrik terputus,” katanya.

Tiko hanya mengandalkan penerangan lilin selama 12 tahun. Bahkan, ia juga meminta air mandi kepada tetangga.

“Jadi ambil air dari samping, ada Sanyo, ambil ember gitu. Kalau listrik tidak ada, pakai lilin untuk penerangan,” ujarnya.

Dahulu kala, Tiko adalah orang kaya. Ini karena orang tuanya bekerja sebagai mitra di Kementerian Keuangan.

Belakangan, kondisi kejiwaan ibunya semakin memburuk saat ayahnya meninggalkan Tiko dan ibunya. Parahnya, keadaan keuangannya juga terganggu karena ditelantarkan sang ayah.